24 Desember 2014

Selamat Hari Lahir, Ibuku Sayang

Kemarin adalah hari lahir ibu. Rasanya pengen nangis, sumpah. Ibu bagai malaikat yang tak pernah lelah merawat anak-anaknya. Begitu banyak peristiwa yang telah terlewati bersama. Suka. Duka. Tawa. Air mata. Ibu begitu kuat. Ibu begitu tegar. Ibu, perempuan luar biasa yang pernah aku temui di dunia.

Ibu lahir di Palembang sebagai anak ke dua dan sekaligus bungsu karena nenek meninggal sewaktu ibu masih bayi. Ibu lalu diasuh oleh mbah buyut hingga dewasa. Perjalanan hidup yang tak selalu mudah membuat ibu lebih mandiri. Waktu muda, ibu ingin jadi perawat atau bidan. Tapi karena minimnya informasi dan akhirnya terlambat untuk mendaftar, jadilah ibu mencoba menjadi guru. Allah memberi rizki lebih dengan mengangkatnya sebagai PNS di tahun 1982. Dua tahun setelah itu, ibu menikah dengan Abah dan dianugerahi lima orang anak.

Ibu selalu bisa membuat rumah jadi lebih hidup. Ada saja ceritanya. Lebih sering sambil aktifitas sambil bernyanyi ala guru TK (ini kebawa sampai rumah) yang membuat kami tertawa. Ibu selalu bisa membuat mainan sederhana kalau ada anak kecil di rumah. Ibu selalu bisa menceritakan kisah sederhana untuk kami ambil hikmahnya (yang aku sangat ingat sampai sekarang adalah cerita tentang ibu dan anak kodok).

Begitulah ibu.

Ooo

Sebenernya rutinitas di keluargaku adalah, ketika ada anggota keluarga yang berulang tahun, maka kami akan membuat kue sederhana dan akan kami makan bersama. Tidak berniat untuk merayakan, tapi hanya sebagai rasa syukur karena masih diberi rizki dan masih bisa berkumpul dengan keluarga. Seiring berjalannya waktu, dua orang adik perempuanku sudah tidak tinggal di rumah lagi. Tika dibawa suaminya ke Belitang, dan Lala kuliah di Bogor.

Bantuan datang. Beberapa hari sebelumnya, adikku yang dari Belitang datang karena liburan sekolah. Akhirnya kami sepakat untuk buat kue andalan (brownis coklat kukus, pakai yang instan, hehe). Karena aku kerja, jadi adikku yang buat brownis dan krim untuk menghiasnya. Nah, karena aku belum beli kado, jadilah kemarin itu nekat ke Karang sepulang kerja. Karena itu juga jadi kuenya belum sempat dihias sampai aku pulang ke rumah (sampai rumah Maghrib).

Akhirnya brownis coklat plus hiasan sederhana jadi juga. Sayang banget gak sempet buat hiasan yang lebih indah. Jadinya Cuma begini,

Gegara pulang sudah sore, gak sempet buat hiasan lagi :(

Sayang lagi, anak-anak ibu gak bisa kumpul semua. Lala belum bisa pulang karena belum libur semester. Kiki juga lagi study tour bareng murid-muridnya ke Jakarta. Yah, gak papa deh, yang penting doanya selalu ada.

Fotografernya gemetaran kali ya, blur gini -,-

We love you, Mom :-*

Ya Allah, ampunilah dosa kami dan dosa kedua orang tua kami dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami diwaktu kecil,"

06 Desember 2014

DECEMBER, MY WISHES!

Memasuki bulan Desember, biasanya aku mereview kembali apa-apa saja yang terjadi dalam setahun kemarin. Kalau dulu semasa sekolah, aku biasa mencatat target-target yang akan aku lakukan setahun kemudian. Gak banyak sih, hanya agar diri ini termotivasi melakukan hal-hal yang lebih berarti, dan tentu saja, biar gak salah arah.

Sedikit contoh, dulu aku terbiasa begini ;
No pacaran
Haha, ya dulu aku memang lagi semangat-semangatnya ikut ngaji. Dikasih tahu kalau pacaran itu gak ada gunanya, gak ada manfaatnya. Eh, pas pasang target itu, tahun depannya malah ada yang nembak, hyahahaha.
Masuk rangking 5 besar di kelas
Ini biar memotivasi aku yang pada dasarnya gak pinter-pinter amat di kelas. Waktu SD sih hampir full rangking 1 terus, tapi masuk SMP dan SMA mulai turun ke bawah. Makanya aku buat waktu itu minimal masuk 5 besar, karena saingannya memang kuakui jempol, cuy!

Dan target-target lain yang aku sudah lupa, hehe.

Sekarang, di usia yang menjelang kepala tiga, aku agak males untuk buat targetan seperti itu. Entah karena seringnya target itu terlanggar (sengaja atau gak sengaja), atau kepalaku yang sudah malas berfikir mau ngapain lagi tahun depan. Jleeb!

Beberapa minggu yang lalu, ada sidang kecil di rumah, gegara sedikit miskomunikasi antara abah dan adikku (yang berimbas juga padaku, hiks). Ditanya sama Abah ada rencana apa tahun depan dan beberapa tahun ke depan. Aku tahu arah pembicaraan itu. Yah, pasti tentang perkembangan aku dan adikku yang makin tua umurnya (tapi makin dewasa kah?).

Ditanya begitu, adikku langsung menjawab, mau punya mobil, buka usaha, menikah sebelum lebaran, dan lain-lain. Nah pas giliran aku, aku sama sekali gak ada hal yang muluk-muluk begitu. Jadi kujawab aja dengan sedikit nyengir, gak tau, nothing. Beda banget ya orang yang optimis dengan orang yang pesimis kayak aku ini, hihi.

Yah, ini sekedar intermezo aja. Bahwa sejujurnya, kita ini butuh yang namanya pagar dan petunjuk arah akan kemana kita besok? Kalau gak ada petunjuk, ya seperti orang tersesat, gak tau kemana. Masih mending kalau ada yang bisa ditanya dan gak malu bertanya. Lha kalau sudah tau gak ada petunjuk arah, gak mau tanya juga apa jadinya? Dan kalau sudah ada petunjuk arah, masih juga perlu pagar supaya kita gak melencong kemana-mana. Tau sih mau jalan kesana, tapi di tengah jalan liat hal yang lebih bagus dan menggoda, mampir deh. Akhirnya lama lagi deh sampe ujung jalan sana.

Ini teori. Kenyataannya gak semudah itu #agak berpengalaman tampaknya, hoho.

27 November 2014

Mikir

Beberapa hari yang lalu, saya terlibat obrolan dengan seorang teman lewat dunia maya. Obrolannya sekitar persiapan sebelum menikah, lebih tepatnya apa-apa yang seharusnya dipersiapkan seorang perempuan sebelum menikah. Saya sempat mikir juga setelah itu, secara saya pribadi memang harusnya sudah mempersiapkan diri untuk menjadi seorang istri. Oke, saya memang sudah belajar dengan teman-teman sesama perempuan bagaimana seharusnya menjadi istri yang baik itu. Tapi saya jarang sekali mendengar penuturan dari laki-laki.

Nah, obrolan ini bisa dijadikan sedikit referensi. Setidaknya –oh, begitu ya pandangan seorang laki-laki terhadap sosok seorang istri- begitu. Hehe.

A : Teman
B : Saya

A: Mnurut anda apa skil yg esensial wajib dketahui wanita sblm nikah
B: Hak dan kewajiban. Bisa masak haha
A: Bisa masak dr apa yg ad dskitarny
A: Mau mengakui ksalahan
A: Baca quran terjemahny
A: Eh salah ya haha
A: Itu gw mikir.. bkn skill sih
B: 😄
B: Dr prmpuan itu empati. Dr laki2 itu eksistensi
B: Prmpuan akan senang ktika laki2 mmbri empati
B: Laki2 akan senang ktika ia dberi pgakuan
A: Empati opo contohna
A: Skill opo empati
A: Itu gak nyata. Yg nyata itu prempuan blanja barang yg skilas liat. Gak mikir byk cuma blanjany yg banyak haha
B: Itu klo blm nikah
A: Skill utk mndeteksi pnipuan
B: Mksudnya?
A: Byk kna tipu wanita. Blanja n via hal lainny
A: Wakakak korban iklan
A: Bgmn membedakan antara hak n batil
A: Artiny ya baca quran
A: Bgmn mengetahui yg esensial itu jg skill sbnrny
B: Msh ttp belajar
A: Skill utk mencuci dan nyetrika jg lipet baju
B: Itu mah udh jd krjaan tiap hr quni
B: 😒
A: Skill utk masak murah enak dan kenyang dr uang gaji 300 ribu sbulan wekekek
B: Masak tempe aja tiap hr
B: 😜
A: Skill utk tidur 2 jam sehari tanpa mengeluh
A: Skill utk terlihat segar n siap dipoto tanpa makeup
A: Skill utk mijet
B: 😱
A: Skill utk menghibur ygmembangun pmikiran
B: Omg..
A: Skill utk melayani obrolan apapun tanpa trlihat bodoh
A: Skill utk memasak hewan hasil sembelihan secara lgsg
A: Skill utk membuat bekal makanan yg sehat
A: Skill utk memproses ikan laut dan tawar
A: Skill utk berargumen dgn basis quran dan hadist
A: Skill utk meminta maaf dan merubah diri jika salah
A: Skill utk membuat obat sakit kpala, perut dan flu
A: Skill utk siap mnerima tamu kapan saja
B: Byk bgt..
B: 😰
A: Skill utk membuat kue murah yg enak
A: Skill utk membaca quran dgn tajwid yg benar
B: Dan dari semua itu, adalah tggung jawab pmimpin utk mngarahkannya
B: 😊
A: Tggjawab manusia utk membaca pedomanny. Tggjawab ortu utk mendidik anakny.
B: Betul. Tp prmpuan klo sudh nikah itu tggung jawab suaminya
B: Bkn orgtuanya lg

Well, kelihatannya mudah ya. Itu kan pekerjaan sehari-hari kita sebagai perempuan yang tinggal di rumah orang tua (dan kosan mungkin). Tapi, entahlah ketika esok sudah menikah.


#jadi mikir : waduh, gak bisa masak! Takut nyiangin ikan! Geli sama daging berdarah-darah! Malu mau ke warung beli sayuran! Haha.

24 November 2014

ONGKOS NAIK??

Ongkos naik lagi?? Tiddaaakkk!

Hadeuuh, berkurang lagi deh jatah tabungan gegara harus naikin subsidi ongkos rumah-kantor PP tiap hari :’(

Oke, ini akibat dari kenaikan harga BBM yang katanya ‘Cuma’ naik sekitar 20% tapi ongkos angkutan umum naik sampai 100%! Parah! Ini aku yang terlalu mendramatisir atau bang sopir yang gak pengertian ya semena-mena menaikkan ongkos angkutan umum.  Aku sih bukan seorang pengamat politik atau pengamat ekonomi yang sudah pakar dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah ini, tapi pengurangan subsidi BBM ini ujung-ujungnya ya rakyat kecil juga yang kena imbasnya.

Masalahnya adalah, ketika harga BBM naik, otomatis harga bahan-bahan kebutuhan hidup juga naik. Dimulai dari ongkos angkutan umum, merambat ke harga bahan makanan, lalu ke harga kebutuhan lain. Nah, kalau rakyat besar (lawan dari rakyat kecil) sih enjoy aja. Mau naik atau gak harganya, tetap bisa kebeli. Lha kalau rakyat kecil? Kudu mikir dua kali dulu kalau tuh barang gak penting-penting amat. Tapi lebih seringnya adalah barang-barang itu penting.

Memang, pengurangan anggaran subsidi BBM ini katanya akan dialihkan pada kebutuhan untuk rakyat banyak juga, seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, tapi kalau semua harga bahan pokok naik, apa bedanya? Lagi-lagi, yang kena imbasnya juga rakyat kecil kan? Oke, kita ambil sisi positifnya lagi, yaitu pengadaan bantuan secara langsung alias BLT. Yah, mudah-mudahan saja sasarannya bisa tepat ya, gak diselewengkan, gak pake nepotisme J

Okelah, ini hanya curhatan gegara kesel sama bang sopir angkot yang naikin ongkos sampe 100% padahal jarak rumah ke kantor gak sampe 5 km. Bikin gak mud sih kalo ketemu sopir kayak gitu (pasalnya, gak semua sopir begitu ternyata, haha). Jadi sekarang aku mulai pilih-pilih angkot kalau mau berangkat dan pulang. Say no to bang sopir yang ongkosnya mahal! Hakhak :D 

29 Oktober 2014

Ke Bogor Lagi #2

Aaahh, setelah semalam beristirahat, energi pun kembali terisi meski badan masih terasa pegal. Tanteku mengeluh jari kakinya lecet, hehe. Besok lagi kalau ke KRB pakai sendal jepit aja deh atau sepatu longgar yang nyaman dipakai jalan kaki.

Next, dari Wisma Amarilis, kami menghirup udara pagi di sepanjang jalan kampus IPB. Udara pagi terasa sejuk sekali. Nah, adikku mengajak kami ke kebun praktikumnya sekalian nyiram katanya. Rajin sekali, padahal kalau di rumah, mana pernah pegang tanaman! :D
Rajin euy :P
Pulang dari jalan-jalan, kios roti yang ada dekat perpustakaan sudah buka. Kata adikku kios itu bekerjasama dengan Bogasari. Roti-rotinya enak dengan harga yang sangat murah. Mulai dari Rp 2000,-/buah, nyam nyam!

Kenyang juga makan roti ini
Hari kedua ini, kami sempat bingung mau kemana, mengingat aku dan tante juga akan pulang hari itu juga (lusa aku sudah bekerja). Jadilah kami cari info sana-sini, ketemu danau Situgede. Sebenarnya kami belum tahu sama sekal letak danau itu dimana, penampakannya seperti apa, dan ada apa disana. Kami hanya dapat informasi dari artikel di dunia maya kalau danau itu bagus, dan di belakangnya pun ada hutan penelitian.

Sebelum kesana, kami mampir ke kosan adikku di seberang kampus. Wedew, ini kosan atau tempat pengungsian sementara? Berantakan amit!
Hyyaaaa, tiddakkk
Next, kami menuju ke danau situgede berbekal info tanya sana-sini naik angkot apa dan berapa lama. Gak terlalu jauh kok. Dan setelah sampai disana... jeng jeng! Kok pemandangannya mengenaskan gitu? Kami sempat berfikir kami salah masuk atau salah pintu. Kok gak ada plang nama atau petunjuk arah atau petugas? Pemandangan di sekeliling kami hanya pasangan-pasangan muda, membuat kami seperti alien yang terdampar di tepi danau, aaakkkk!

Di sebelah kanan-kiri pohon ini banyak pasangan pacaran, waakks!
Danaunya sendiri bagus, dengan latar belakang hutan penelitian IPB yang sangat lebat. Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang membuat tanah di sekitanya lembab dan alhasil berlumut. Ada semacam plang yang ditempel di beberapa pohon. Mungkin plang ini dipasang karena banyaknya pengunjung yang berpasangan datang kesini, hihi. Selain hutan penelitian, disini juga terdapat beberapa kandang rusa dan pedok.

Setelah sholat Ashar di masjid dekat hutan penelitian (untung ketemu masjid, eh deket jalan raya ternyata!), kami siap-siap pulang. Bukan pulang ke wisma lagi atau kosan adik, tapi pulang ke Lampung. Ya ampun kayaknya baru kemarin sampe, sekarang sudah mau pulang lagi. Kami berpisah di terminal Laladon. Good bye Lala. See u next time!

Akhirnya berani juga keliling cuma bertiga :D


28 Oktober 2014

Ke Bogor Lagi #1

Oke, kita ke Bogor lagi :D

Memang pas pertama kali ke Bogor itu belum puas jalan-jalannya, dan bilang pada diri sendiri, besok kesini lagi (kalau mau tulisan pertama, disini). Eh akhirnya kesampaian juga :D Alhamdulillah. Kali ini bukan sama ibu dan adek, tapi sama tante yang dari Palembang. Hanya berdua dari Lampung, modal nekat dan berani (asli gak pernah nyebrang pulau bareng orang yang sama-sama gak tau jalan, hehe). Pilihan tetap pada ngeteng alias naik angkutan putus-putus, alasannya memang hemat ongkos walaupun agak lebih cape. It’s ok.

Berdasarkan pengalaman yang dulu tentang kemacetan di Bogor, maka kali ini kami memilih rute perjalanan yang ringkas dan gak repot bolak-balik. Jadi, dari terminal Baranang Siang, kami gak langsung menuju penginapan di IPB, tapi langsung jalan ke KRB. Pilihan ini memang punya konsekwensi lain, yaitu jalan-jalan sambil bawa tas ransel dan tentengan. Tapi kami berhasil sampai KRB pagi, jadi punya waktu lebih banyak untuk keliling KRB (pada kunjungan pertama, hanya beberapa spot yang berhasil dikunjungi).

Nah, beberapa spot yang kami kunjungi kemarin adalah :

1.      Taman Meksiko
Taman ini berada di sisi kanan pintu gerbang utama. Uwoww.. panasnya! Tampaknya memang taman ini sengaja didesain sedemikian rupa sehingga sangat mirip dengan daerah Meksiko yang panas dan tandus. Isinya berupa koleksi tanaman kaktus. Ada yang unik disini, patung-patung musisi Meksiko dari tumbuhan!
Disini, asli puaanaas terik, padahal baru jam 10 pagi

Musisi unik :D
2.       Taman Sudjana Kassan
Taman ini terletak di ujung arah utara KRB (hah! Gak terasa kami sudah jalan jauh sekali dari pintu gerbang utama). Kami melewati beberpa jalan yang di kanan kirinya pohon-pohon besar dan akarnya super besar. Banyak pohon itu ditanam dari tahun 1800-an. Pantas, tinggi badanku saja Cuma setinggi akarnya lho! Awalnya kami gak tau kalau taman ini ada bunga yang disusun membentuk burung garuda. Sayang sekali kami baru lihat keterangannya setelah melangkah pergi. Mau balik lagi ambil fotonya, pegel euy!
Bunga merah di belakang patung itu adalah lambang burung garuda
Nah deket taman ini, ada pohon sosis. Buahnya mirip seperti buah asem berukuran raksasa. Asli gedhe banget! Warnanya coklat susu. Kukira beneran asem raksasa, ternyata pohon sosis. Kata pemandu wisata, buah ini bisa dimakan (tapi oleh gajah dan jerapah). Gubraks!
Mirip buah asem kan?
3.       Taman Anggrek
Nah ini dia taman yang dari kunjungan pertama kucari-cari, tapi baru berhasil ketemu pada kunjungan kedua. Disini, anggreknya asli bagus banget! Ada peringatan tidak boleh menyentuh bunganya, mungkin khawatir akan rusak atau dipetik sembarangan kali ya.
Ini hanya beberapa anggrek dari banyak anggrek disini. Anggrek yang merah itu seperti beludru.
 4.       Toko Souvenir
Toko ini terletak di sebelah kiri pintu gerbang utama. Isinya jelas suvenir yang bisa dibeli oleh para pengunjung. Mulai dari bibit anggrek seharga Rp 40.000,-/botol sampai buku-buku tanaman seharga Rp 200.000,-an. Pengen beli sih tuh bibit tanaman anggrek, tapi takut gak bisa nanemnya, ntar malah mati hehe.
Miniatur mobil antik
5.       Museum Zoologi
Sesuai dengan namanya, tempat ini penuh dengan koleksi hewan yang telah diawetkan, alias bukan hewan hidup seperti kebun binatang. Penataannya persis seperti tempat hidup hewan itu sendiri. Kupu-kupu yang seolah terbang dan hinggap di bunga, harimau yang mengaum di tengah hutan, dan gorila yang bergelantungan. Ketika melihat hewan-hewan itu, rasanya kok kasihan ya, mereka diawetkan gitu. Atau itu bukan hewan asli alias replika saja yang dibuat semirip mungkin.
 
Ternyata kupu-kupu juga ada yang siang dan malam hehe

Nah, itu beberapa spot yang kami kunjungi, selain jaln-jalan yang kami gak perhatikan namanya saking takjub sama pohon-pohon di sekitarnya.

Setelah cape keliling KRB, kami menuju ke Taman Kencana. Sebanarnya ini taman gak terlalu bagus (menurutku), sama lah penampakannya sama taman-taman kota di tempat lain. Tempat nongkorong yang di sekelilingnya banyak kios penjual makanan. Disini, ada beberapa tempat makan yang terkenal enaknya, tapi harganya juga kelas menengah ke atas, hehe. Salah satu yang kami kunjungi adalah Pia Aplle Pie yang berdiri di jalan Padjadjaran.
Haiiyyaa.. mukanya sudah kucel
Sayangnya, kami gak sempat foto tempat ataupun makanannya, hari sudah terlalu sore, dan kami belum memesan kamar di wisma IPB! hwaaa.
Baiklah, hari pertama di Bogor kali ini cukup melelahkan. Kita lanjutkan hari ke dua besok ya...

08 Oktober 2014

Kita Bukan Penghalang


Menangis karena dilangkahi menikah oleh seseorang yang lebih muda itu memang hal yang wajar. Kebanyakan memang adik sendiri (kalau adik sepupu atau adik kelas, beda ceritanya). Wajar memang. Itu manusiai. Itu perempuan banget, hehe.

Saya juga mengalami kok yang namanya dilangkahi menikah oleh adik. Dan rasanya itu gak enak. Gak enak banget! Karena sepertinya, yang seharusnya menikah duluan adalah kakaknya. Tapi itu kan ‘seharusnya’ dalam kamus kita, nah kalau dalam kamus kehidupan kan beda lagi. Hidup, mati, rezeki, termasuk jodoh itu kan yang mengatur yang mencipta kita, tho? Tinggal bagaimana upaya kita untuk mendapatkan yang terbaik dari keempat perihal tadi. Hidup yang baik, mati dalam keadaan baik, rezeki yang baik, dan jodoh yang baik.

Semua pasti setuju, semua tidak datang tiba-tiba. Semua harus diusahakan. Siapa yang bisa hidup dalam keadaan baik kalau hanya berdiam diri saja? Menunggu orang lain datang mengantar bantuan, begitu? Gak, tho? Mati dalam keadaan baik juga harus diusahakan, kan? Bagaimana mungkin kita mati dalam keadaan baik kalau sehari-harinya kita melakukan hal yang buruk. Itu juga usaha. Rezeki juga begitu. Kalau mau dapat lebih baik, ya belajar, ikhtiarnya lurus, optimis. Untuk jodoh? Sama aja.


Kalau kita hanya berdiam diri di rumah, gak punya kenalan, gak mau dikenal-kenalin, ya selamat menunggu aja. Pasti dapet sih, karena sudah dijanjikan bahwa manusia itu diciptakan berpasang-pasangan, tapi masa gak ada usaha? Mau sampai kapan menunggunya? Kalau sudah usaha dan belum dapet juga, ya berarti kita sedang diuji kesabarannya. Kalau sudah punya –katakanlah calon suami/istri- trus terasa lama dan akhirnya dilangkahi, ya itu sudah takdir namanya.

Tapi begini, saya hanya ingin tekankah bahwa dilangkahi menikah oleh adik itu gak sehoror yang kita bayangkan kok. Awalnya memang kita membayangkan deretan pertanyaan ini :

“Apa kata dunia kalau saya dilangkahi?”
“Kata orang kan kalau dilangkahi, akan lebih sulit jodohnya. Jadi gimana dong?”
“Kenapa sih dia gak sabar? Saya yang lebih lama galaunya aja masih belum nikah.”
Nah lho!

Saya hanya ingin tekankan bahwa dilangkahi menikah adalah sesuatu yang wajar. Kalau kata temanku, tidak akan membuat kita mati berdiri, hehe. Tidak serta merta membuat kita kehilangan harga diri. Dan satu lagi yang penting untuk digarisbawahi adalah, setidaknya kita tidak menghalangi orang lain untuk berbahagia. Begitu kan?

Ini hanya sekedar coretan tangan saja, gak usah terlalu ditanggapi kalau memang suasana hati sedang galau karena (akan) dilangkahi. Survey membuktikan, orang yang dilangkahi (khususnya perempuan), akan baik-baik saja setelah pernikahan sang pelangkah itu.

So, menangis ya gak papa, karena memang itu wajar. Tapi, gak usah terlalu berlarut-larut, apalagi sampai menggagalkan pernikahan sang adik atau membuatnya menunda-nunda. Gak mau kan sang adik sampai bilang begini :
“Kalau mau nikah tua, jangan ngajak-ngajak dong!”

Hehe, just for fun ya. Semoga kita diberi kesabaran yang lebih dalam menghadapi hidup ini, xixixi.

Catatan :
Tulisan ini sebenarnya sudah lama ada di kepala, tapi baru bisa dilahirkan siang ini. Sebabnya karena beberapa hari lalu saya mendengar lagi ada teman yang mau dilangkahi. Dia cerita ke saya, yah saya ceritakan pengalaman saya. Kayaknya saya bisa jadi Duta Perempuan Galau karena dilangkahi deh, haha.

02 Oktober 2014

Catatan Harian

Saya bermonolog lagi. Bercerita pada langit-langit. Bercerita pada cermin. Tapi mereka tak bisa mengabadikannya dalam bentuk nyata (mungkin saja mereka menyimpannya dalam bentuk yang tak kasat mata, haha). Akhirnya saya bercerita pada buku harian. Semua cerita senang. Cerita sedih. Cerita aneh. Tak ada yang bisa saya jujurkan sejujur-jujurnya kecuali pada buku harian ini. Sebab, ia bisa menampung cerita saya tanpa mengeluh.

Tapi belakangan ini saya mulai tak jujur pada buku harian saya. Saya hanya bercerita apa yang saya mau, tidak seperti dulu (saya bercerita apa saja, tentang siapa saja). Kenapa? Karena saya sudah mulai bosan pada satu penggal kisah hidup saya. Penggalan kisah itu dulu saya tuliskan hampir tiap hari. Tapi sudah hampir setahun ini saya mulai melupakannya. Tidak. Bukan melupakannya, tapi saya malas menceritakannya.

Saya lebih suka menceritakan tentang sesuatu yang baru. Benar-benar baru dalam penggal lain hidup saya. Saya hanya berharap saya bisa lebih baik dengan penggal yang baru itu. Awalnya, saya harus memaksa diri saya untuk bertahan tidak menceritakannya dalam buku harian. Tapi sekarang saya sudah biasa. Dan hasilnya adalah setengah dari buku harian saya yang baru ini berisi penggal episode yang baru.

Sebuah episode yang saya suka. Sangat suka. Dan saya hanya bisa menceritakannya disini. Di dalam buku harian ini. 


Sepenggal Momen


Ada satu hal yang paling aku suka ketika membuka lapmi ini. Disana, ada satu folder yang berisi momen beku yang kuabadikan. Nama folder itu dulunya ‘Foto’ tapi beberapa waktu lalu (tepatnya setelah lapmiku dioperasi), folder itu kuganti nama menjadi ‘Narsis’. Isinya seperti namanya, memuat foto yang menjadi kenanganku.

Nice ^_*
Tentu saja, bukan hanya fotoku yang ada disana, tapi juga foto-foto keluarga, foto-foto sahabat, teman seperjuangan, dan apapun yang telah menginspirasiku. Seperti sebuah prasasti, foto-foto itu menjadi satu kenangan tersendiri ketika aku sedang gak mood, sendirian, nothing to do.

Dan kali ini, aku menemukan satu kenangan di sub-folder itu, bukan foto, tapi sebuah video amatir yang waktu itu direkam oleh teman kerjaku, sahabat perjuangan selama di Palembang. Tidak sekali aku menontonnya, tapi berkali-kali. Video itu membuatku tertawa sendiri. Saat dimana kami semua masih berkumpul, berjuang. Hal yang paling kuingat dari video itu adalah mobilnya. Mobil jenazah.
Simak aja,


(karena videonya melebihi kapasitas yang bisa di-upload disini, jadi cuma bisa kasih link itu)

27 September 2014

Palembang Again



Yups! Kita ke Palembang lagi. Tapi kali ini dengan rombongan yang berbeda. Jadi, ceritanya teman-teman kerjaku ini belum pernah kesana, trus pas kebetulan ambil cuti bareng, jadilah kami merencanakan ke kota yang terkenal dengan Jembatan Ampera itu. Judul perjalanannya sih pengennya back packer, tapi ternyata jadi rempong packer karena bawaannya macam orang mudik, maklum lah perlengkapan cewek kan harus komplit yak. Belum lagi bawa makanan yang super banyak (haha, takut kelaparan). Beuuhh.

Oke, kami berangkat naik kereta pagi (ini modus cari tiket paling murah, Cuma Rp 30.000,- cyin!) dari stasiun Tegineneng. Aku informasikan bahwa perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 12 jam, jadi santai aja dan jangan tanya-tanya sudah sampai mana, ditambah bangku kereta pagi yang gak bisa diubah-ubah sandarannya kemungkinan akan membuat pegel badan. Siap deh, dan sebelum berangkat, kami eksis dulu kayak biasa :D

Eh, mas petugas ikutan juga? :D
Di dalam kereta, kami jadi pusat perhatian. See? Karena kami doyan ngbrol ini itu, tertawa, bercanda, tanya ini itu, nawarin cemilan ke tetangga kanan kiri depan belakang (sok baik hahay). Tapi bener lho, so alive banget lah, sampai-sampai ada tetangga yang ‘sstt sstt sstt bayi tidoookk!’ #ampun nyai..!
Di dalam sini ini kerjanya cuma makan tidur ketawa, makan tidur ketawa
Akhirnya kami sampai juga di stasiun Kertapati, stasiun paling akhir. Untung pas di kereta tadi ketemu sama bapak-bapak yang searah dengan kami, jadi bisa bareng plus ada yang jagain kami (waktu sudah menunjukkan pukul 20.30). Dari Kertapati, kami melaju ke rumah nenekku di Plaju (modus cari penginapan dan sarapan gratis ala rempong packer haha), here we go :D
Ooo

Pagi di Palembang, kami gak sabar untuk segera menyusuri sudut kota mpek-mpek ini. kami sudah merencanakan rute perjalanan kali ini, yaitu Jakabaring-Ampera dan sekitarnya-Pulau Kemaro-Ampera lagi (mau liat Ampera malam hari). Nah, jadi kami mulai dengan angkot ke Jakabaring. Gooo..

Gelora Sriwijaya di pagi menjelang siang sepi sih, gak banyak orang tapi ada aja pasangan muda yang pacaran, masih seragam SMA bro! Disini ada tragedi lepasnya sol sandal salah seorang dari kami (ckck padahal aku sudah bilang pakai sendal jepit aja karena nanti akan jalan jauh, hehe). Untung ada hipermart di samping GOR, tapi sandal jepit disana mahal banget! Rp 45.000,- cyin, tidaaakkk! Untuk rempong packer sekelas kami, sendal jepit itu terlalu mahal, jadi kusarankan saja beli lem super untuk sementara (harga lem super sekitar Rp 3000,-), dan nanti ketika kami sampai di Ampera, baru beli sendal murah di pasar 16. Saran diterima.

Udaranya masih pagi, masih enak buat jalan kaki
Panas, nyengir
Sebenarnya belum puas disini, belum menyusuri seluruh sudut dari GOR ini, tapi waktu sudah beranjak makin siang sedangkan agenda masih banyak. Ditambah kaki sudah pegel. Akhirnya kami lanjutkan perjalanan menuju Ampera. Angkot mana angkot?

Masih ingat tragedi sendal tadi ya, nah di bawah Ampera ini kan banyak tuh yang jualan berbagai macam barang, termasuk sandal. Eh, sebelum ketemu sandal jepit, yang ketemu duluan adalah tukang sol. Bapak-bapak tua yang sudah beruban. Daripada beli sendal, kusarankan lagi untuk sol aja sekalian. Saran diterima kembali. Kami menunggu sandal disol dengan ngemil mpek-mpek pinggir jalan, Rp 1000,- an hehe.

Mb tri bertanduk, haha
Dalam sebuah perjalanan memang tragedi itu pasti ada aja. Setelah tragedi sandal tadi, di Ampera ini terjadi tragedi lagi. Kami cari makan karena hari sudah siang. Sebenarnya sudah ngemil sih dari tadi, tapi entah rasanya pengen makan berat. Aku informasikan kalau disini jarang sekali ada warung nasi seperti di Lampung. Kalaupun ada, itu pasti masakan Padang. Selama aku tinggal di Palembang beberapa tahun lalu, aku memang jarang jajan nasi disini, paling aku jajan mpek-mpek atau paling berat lenggang atau martabak har.

Salah seorang dari kami ngotot pengen nasi, okelah. Kita cari nasi, tapi gak mau masakan Padang (di resto kami tiap hari lihat masakan padang, bosen). Akhirnya kami berhenti di salah satu kios di depan Museum Sultan Badaruddin II (setelah perjalanan panjang dari ujung ke ujung, dari kios ke kios, dan akhirnya balik lagi). Disana tertera ada sate, bakso, mi ayam, gado-gado, dll. Kami pilih sate ayam, model, dan gado-gado (alasannya sih yang penting ada nasi atau lontong, okelah).

Setelah menuggu sekian lama, pertama keluarlah sate ayam. Dari penampakannya, kayaknya gak bakal enak nih sate. Ternyata benar. Masih mending banget sate di samping hotel kami. Maaakkk, ampun! Kedua keluarlah model. Rasanya hambar. Sudah ditambahi garam, kecap dll masih aja gak ngaruh. Masih mending langganan di samping kantorku dulu. Dan terakhir keluarlah gado-gado pesananku. Berharap hidangan terakhir ini bisa mengobati kekecewaan hidangan sebelumnya. Tapi ternyata sama aja. Hambar. Tapi apa boleh buat, sudah dipesan walaupun gak dimakan tetap harus dibayar.

Oke, setelah dzuhur di masjid Agung, kami lanjutkan perjalan ke tujuan selanjutnya. Pulau Kemaro. Hunting sana sini cari harga sewa perahu paling murah, akhirnya kami dapat harga Rp 80.000,- untuk 1 perahu. Perjalanan kesana memakan waktu sekitar 30 menit mengarungi sungai Musi yang seperti lautan.

Gak ada lampion atau hiasan lain, soalnya pas gak ada momen apa-apa

Inilah penampakan Pulau Kemaro dari perahu yang kami tumpangi. Pagoda tinggi menjulang. Sayang, kami kesana pas tidak ada agenda apa-apa. Waktu itu aku kesana pas tahun baru imlek, Pulau Kemaro berhias lampion merah yang indah.
sayang foto pagodanya gak sampe pucuk, gak ada fotografernya, jadi pake timer aja

Nah ini dua tahun lalu pas aku berkunjung kesana, ada perayaan tahun baru imlek kalo gak salah.
lampionnya meriah!
Nah, disini ada tempat-tempat yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung umum, seperti makam Fatimah (istri dari Tan Bun An), baca legenda Pulau Kemaro disini, dan pagoda yang tinggi menjulang itu. Seyogyanya kita memang harus menghormati tempat-tempat seperti itu, menghormati umat lain.

Waktu sudah sore dan kami kembali ke Ampera. Tempat yang tidak kami rencanakan adalah Palembang Icon. Tapi kami penasaran melihat mall baru yang katanya besar itu. Sebentar dan hanya foto di depannya saja, hehe. Kali ini untung bulekku ikutan (sudah pulang kerja), jadi bisa kami lantik jadi forografer kami, hehe.
Terimakasih Bulek Ari untuk foto ini :)
Perut kami lapar lagi. Kali ini kami harus makan enak, gak mau kecewa seperti siang tadi. Aku sarankan untuk nyoba mi tek tek pinggir Musi (ini langgananku), murah meriah, kenyang lagi. Sebenarnya aku pengen makan martabak har, tapi mereka gak tertarik. Okelah.

Malam di Ampera. Lapangan depan BKB penuh manusia. Aku seperti mengingat kembali hari-hari di Palembang beberapa tahun lalu. Sekarang ada beberapa perubahan disini. Dermaga yang sudah dibangun lebih besar, penertiban pedagang, perbaikan ornamen bangunan. Yah, seiring waktu, memang seharusnya begitu kan?

Lelah, kami sangat lelah. Dan.. ada yang terlewat! Oleh-oleh untuk teman-teman kami di hotel belum dibeli. Kios kerupuk di samping rumah nenekku sudah tutup (waktu menunjukkan pukul 21.30! sepulang kami dari jalan-jalan). Aku hanya menemukan warung martabak har langgananku. Mampir dulu. Akhirnya dapat! Hehe

Well, satu-satunya jalan adalah besok pagi harus ke pasar untuk beli kerupuk. Tentunya, harus super cepat karena kami harus sampai di stasiun Kertapati setidaknya pukul 08.00 pagi. Dan perjalanan dari pasar Plaju ke Kertapati sekitar 45 menit (jaga-jaga kalau macet).

Pulang kami lebih rempong daripada berangkat. Bawaannya persis orang mudik lebaran. Tas ransel, makanan super banyak yang dipaksa bawa sama nenekku (takut kelaparan di kereta), dan oleh-oleh. Mantabs! #Makasih mbah, asli banyak banget makanan yang dibawainnya!
Seperti biasa, narsis dulu di stasiun haha
Lihatlah bawaan kami, mudik galo :D
Palembang, see you again ya (kalau mereka sih katanya kapok karena panas banget, hehe). Aku? Banyak kenangan di kota itu, melihat wajah Palembang, aku seperti melihat filmku diputar kembali. 

20 September 2014

Sebuah Keinginan

Oke, pengen posting sebelum cuti selama 4 hari terhitung dari hari Senin besok, hehe. Postingan ringan saja ya, ya semacam monolog dari saya (saya memang suka ngobrol sendiri hakhak).
Agak lupa juga sih apakah tulisan ini sudah pernah saya posting atau belum, mau cari di mesin pencari, males. Ini tentang sebuah keinginan, tapi bukan yang ngebeeet banget pengen. Kalau bisa ya alhamdulillah, tapi kalau gak bisa ya, terus berusaha biar bisa (kalau kata teman saya sih itu namanya ambisi, entahlah).

Dari dulu, gak tau kenapa saya tuh pengen banget punya perpustakaan di rumah. Punya buku yang buaanyyaakk biar ilmunya juga banyak, plus menghabiskan waktu dengan membaca. Sebabnya sih karena miris liat keadaan orang-orang sekarang yang jarang suka membaca. Padahal semua ilmu berawal dari membaca, kan? Ayat Alquran yang pertama kali aja nyuruh membaca, iqra.
Kembali ke awal, saya pengennya ruang perpustakaan ini punya jendela yang lebar banget. Trus, pemandangan diluar jendelanya adalah taman, atau paling tidak banyak pohon hijau, kolam ikan, atau semacam itulah. Jadi, kalau saya sedang bosan baca buku, saya bisa langsung melihat pemandangan diluar jendela yang pastinya menyegarkan mata saya, haha.

Kira-kira seperti inilah ruang perpustakaan yang saya pengen itu :D 

uwooowww bakal betah lama-lama di ruangan ini :D

Keinginan kedua adalah punya rumah yang jendelanya banyak dan lebar-lebar. Jadi hemat energi, gak boros listrik di siang hari. Tapi... apakah jendela besar yang berkaca ini akan mempengaruhi dunia gak ya? Semacam efek rumah kaca itu? entahlah, heee...

Seger kan liatnya?

Nah kira-kira jendela sebesar itulah. Ini sekonsep dengan perpustakaan tadi. Pokoknya, biar udara di dalam rumah selalu berganti dan hawa di rumah jadi sejuk.

Begitulah. Mudah-mudahan saja saya bisa buat rumah seperti yang saya inginkan (tentunya bersama dengan keluarga saya kelak, hoho). Tapi kalau memang gak bisa, ya berusaha. Gak harus mewah sebetulnya, yang penting punya jendela besar dan banyak :D

19 September 2014

Ocehan Gak Jelas

Tidakkah kamu berfikir untuk segera menikah? Kamu akan punya seorang istri yang bisa membuat kamu tertawa, bisa membuat kamu merasa berharga, bisa membuat kamu merasa bahagia. Lalu kamu akan punya anak. Mulanya seorang, lalu dua orang, kemudian tiga orang. Mereka bisa menghilangkan kepenatanmu selepas seharian bekerja. Mereka bisa membuat harimu menyenangkan dengan candaan-candaan. Mereka akan bangga pada ayahnya karena aku yakin ayahnya telah memberikan yang terbaik untuk mereka.

Kamu hanya perlu mencintai. Setidaknya belajar mencintai seseorang yang sekarang ada. Tidak bisa memang terlepas begitu saja dari kenangan masa lalu. Tapi kamu perlu itu. Kamu hanya perlu belajar mencintai seseorang yang mulai benar-benar mencintai kamu selain keluargamu. Kamu hanya perlu mencari dia. Seorang perempuan yang mencintai kamu dengan tulus.

Kenapa seorang perempuan yang mencintai kamu dengan tulus? Karena bagi seorang perempuan, mencintai itu membahagiakan. Ketika ia tulus, maka ia akan selalu membuatmu merasa nyaman. Membuatmu merasa bahagia. Ia akan mendukungmu, bagaimanapun keadaanmu.

Pernahkah kamu mencintai seseorang yang tidak bisa ia membalasnya dengan hal serupa? Kau tetap mencintainya bagaimanapun egoisnya dia. Kau tetap mencintainya bagaimanapun kerasnya hati dia. Kau tetap mencintainya bagaimanapun ia menempatkanmu di urutan belakang.

Kamu hanya perlu mencari dia. Seorang perempuan yang mencintai kamu setulus hatinya. Seorang perempuan yang tak pernah bisa untuk tidak menghadirkan namamu di setiap doanya. Kamu hanya perlu mencari dia... disini. Di dalam hati.

13 September 2014

Reuni Kecil Kimia 2004

Tulisan ini mungkin sudah agak basi ya, mengingat sudah satu minggu sejak pertemuan ini, dan baru sempat aku publish hari ini. Maklum ya teman, lumayan banyak kerjaan di awal bulan, jadi hanya bisa memanfaatkan waktu selepas kerja untuk bercerita.

Oke, kita berhasil reuni dalam jumlah yang lumayan banyak kali ini (setelah beberapa kali pertemuan waktu lebaran yang gak sampe 10 orang) hehe. Apa pasal? Karena kemarin salah satu teman seangkatan kami di kelas Kimia melepas masa lajangnya. Jodohnya gak jauh dari sebagian anak-anak kimia lain, ya adek tingkatnya juga :D Ada beberapa penggal cerita yang sayang dilewatkan. Mulai dari perubahan mendadak dari Lina, sampe salahnya panduan dari suami Lina, Rico. Ckckck, tuh dua orang bikin sensasi :D

Jadi, awalnya beberapa dari kami (khususnya yang perempuan dan masih single) janjian untuk berangkat bareng pake mobil Rico dan Lina, keduanya teman sekelas kami dan ternyata berjodoh. Janjinya sih jam setengah dua siang di sebuah mall. Ternyata, ada perubahan jadwal dari Rico secara mendadak jadi jam setengah satu. Beberapa dari kami yang notabene kerja setengah hari di hari Sabtu, otomatis gak bisa. Akhirnya berkumpullah 4 orang di mall itu tanpa kendaraan yang bisa ditebengin, hiks T,T

Akhirnya, kami sepakat untuk naik angkot daripada menunggu lebih lama (sebenarnya ada mobil Mayang, tapi waktu itu dia dan suaminya belum siap-siap). Kami berempat (aku, Diah, Dian, dan Elta) sama-sama gak tau tempat resepsi Randi. Hanya berbekal denah yang tertera di undangan, kami nekat jalan. Tanya sama sopir angkot dan penumpang lain. Sudah ada gambaran kasar. Well, pas sampe ujung jalan pergantian angkot, kami memilih untuk jalan kaki karena kata teman kami yang sudah sampai, jaraknya gak jauh, tanggung kalo mau naik angkot lagi. Jadilah di siang yang terik itu, kami yang sudah dandan dan terlihat cantik-cantik ini jalan kaki di bawah matahari, hoho.
Sampai tempat resepsi, ada beberapa teman seangkatan juga yang sudah sampai. Kami memang niat untuk reuni kecil. Pumpung ada kesempatan.

Kami masih menunggu beberapa orang lagi, yang ternyata mereka salah jalan alias nyasar. Siapakah mereka yang malang itu? :D Abank Pelita dan Vera. Kali ini ulahnya si Rico, yang nunjukin jalan dan ternyata salah itu. Hm, gak liat panduan dari kami sih :P alhasil mereka muter-muter di jalan sekitar 2 jam (yang kasihan sih Vera, bawa anak kecil, euy!).

Well, akhirnya kami berkumpul. Senang rasanya bisa kembali bertemu dengan keadaanyang berbeda. Beberapa dari mereka sudah punya buntut. Dan kami yang belum dipertemukan dengan belahan jiwa berharap cepat bertemu. Begitulah.

Mayang&Muti, Vera&Zahra, Dwi&Khansa

Dulu yang di depan kami adalah laporan praktikum, sekarang makan siang :D

Happy Wedding for Randi dan Putri, Happy ever after..! ^_^

12 September 2014

Akhirnya Kembali :D

Akhirnya lapmiku kembali!! Akhirnya, setelah menunggu sekian lama, ya ampuunn, kangen banget deh sama laptop miniku ini! Rasanya pengen peluuukk, hehe #dramatisirnya keluar dah!

Yup! Ceritanya adek perempuan yang tinggal di Belitang lagi perlu banget sama ini lapmi, trus satu-satunya orang yang bisa ngasih pinjeman tanpa dana adalah aku, jadi dibawalah si lapmi ini kesana. Sedikitnya tiga bulan kotak hitam kecil ini nginap bersama orang tua asuhnya. Terpaksa si orang tua kandungnya buat tulisan pake kompi di kantor (dan itupun pas sudah agak sorean, setelah tugas selesai). Sedikit tidak produktif sih, tapi ya daripada gak nulis sama sekali.

But, itu sudah berlalu, dan sekarang si lapmi sudah kembali pada orang tua kandungnya yang menyayanginya sepanjang waktu, hehe. Tapi, sepertinya si lapmi ini kurang kasih sayang disana. Buktinya, pas baru buka, busyet dah, debuan banget! T,T kumel, kucel, untung gak sampe bau, hehe. Langsung deh kuseka pake face tonic punyaku (darurat). Lumayan, agak bersihan.

Banyak kenangan dengan lapmi ini. Sejak kerja di Palembang, dia menemaniku di kala sendirian di kosan. Memutar film lucu ketika aku sedang jenuh, menyanyikan lagu melankolis ketika aku sedang menulis puisi, bekerja lumayan berat ketika kupaksa mengerjakan proyek film, dan menyimpan foto-foto untuk jadi kenanganku. Yah, begitulah si lapmi, jasanya benar-benar tak bisa kulupakan.

Well, inilah si lapmiku. Sudah agak cacat di bagian tombol panah kirinya gara-gara dipaksa main game sama adik bungsuku, ckckck.



28 Agustus 2014

Film Pendekku yang Dahulu :D

Entah sejak kapan aku menyukai film. Awalnya hanya menyukai dalam bentuk yah, menonton film. Lalu mengamati bagaimana para pemain itu memainkan perananannya. Kemudian mengamati bagaimana cara membuat film itu sendiri. Aku memang belum pernah tahu bagaimana membuat film sepanjang itu. Tapi, mencoba sendiri membuat film yang sederhana, aku bisa.

Berawal dari obrolan ringan dengan seorang teman, kami mencoba membuat sebuah film pendek. Gak niat untuk dilombakan atau apa, hanya mencoba saja. Bisakah? Tapi ternyata waktu itu pas kebetulan sekali ada lomba film pendek. Makin bulatlah tekad kami untuk mencoba membuat film pendek ini. Mempersiapkan segala hal. Mulai dari ide cerita, skenario, setting, kamera, tokoh, dan tentu saja software untuk mengeditnya.

Nah, aku kebagian edit video klipnya plus campur-capurin dengan audio dan musiknya, juga end-creditnya. Fiuhh, ternyata lumayan rempong waktu itu. Apalagi, softwarenya baru aku kenal (sebelumnya aku belum pernah tau dan sama sekali buta dengan software itu). Yah, otodidak aja deh, dalam beberapa hari (atau seminggu lebih?) akhirnya film itu kelar juga. Masukin CD dan kirim ke panitia lomba.

Hasilnya, belum menang, haha. Tapi gak papa. Gak berambisi untuk menang juga kok, yang penting bisa jadi aja udah seneng banget. Eniwei, sampe sekarang belum memproduksi film lagi. Pengen sih, tapi sulit cari aktornya.

Ini dia film pendekku waktu itu. Klik aja link di bawah ini :D
Selamat menikmati...

https://www.facebook.com/video.php?v=1685655740945&l=8366702582530524527

23 Agustus 2014

KETIKA HUJAN

Dan hujan memang begitu indah ketika derainya membawa kita pada lamunan masa lalu
sebagai kenangan yang tak mungkin bisa kita lupa
bahkan untuk menutupnya dengan cerita baru yang kita karang
tidak, laila
demi siapapun yang kau percayai,
aku selalu menunggu hujan setiap kali menatap jendela kaca di sudut ruangan
bertumpuk-tumpuk buku
musik yang mengalun

tidak, laila
aku terpenjara oleh kata-katamu
aku terkubur dalam ceritamu
dan tanpa sadar, aku begitu menunggumu

laila...
lalu, kapankah waktu itu bisa melebur bersama kisah-kisahku
untuk kemudian jadi bagian sejarah hidupku
sebagai cerita untuk anak cucuku

ah, laila
terlalu jauh angan-anganku

Natar, 23 Agustus 2014 

21 Agustus 2014

Pertemuan yang Berjodoh #versi tiga orang perempuan


Haha, hanya ingin menuliskan sebuah catatan kecil yang memang gak berharap terlalu muluk untuk dibaca orang sih. Hanya saja, sepertinya kalau sudah bertemu dengan teman lama dan tidak menuliskan apa yang terjadi, rasanya tetap ada yang kurang.

Jadi, pertemuan ini sebenarnya tidak terlalu direncanakan. Awalnya dari pembicaraan lewat telepon, kangen karena sudah lama sekali tidak bertemu, dan momennya pas banget masih di bulan Syawal. Akhirnya muncul ide untuk kumpul bareng di suatu tempat. Nah untuk mengumpulkan orang-orang yang memang sudah tercerai berai itu, gak gampang. Kami tag di media sosial siapa aja yang bisa hadir. Tanggapannya positif, ada yang bisa dateng, ada yang diusahakan dateng, ada yang gak bisa dateng dengan alasan punya bayi (hwaa? Jadi si baby penghalang gitu?!)
Hanya aku yang belum menikah, hiks!
Well, memang gak banyak yang bisa hadir, Cuma ada empat orang perempuan (yang membuat FLP kadang disebut Forum Lingkar Perempuan, hehe). Sudah menikah semua kecuali aku, hiks! They are... Mbak Ira, Mbak Ika, and Mbak Elia (Mbak Elia dateng telat banget, malah sudah mau pulang baru dateng, tapi masih untung bisa ketemu). Kata mereka, rela gak bawa suami demi kumpul (suami Cuma antar jemput, hoho).
Oke, kami bernostalgila, karena memang bukan membahas masa-masa kami ketika pertama kali bertemu. Kami lebih membahas tentang kesibukan kami sekarang, tentu saja ujung-ujungnya kabar tentang bagaimana bisa aku belum menikah sampai sekarang? :’(

Lalu merembetlah kisah bagaimana mereka menemukan belahan hati mereka masing-masing. Dan beginilah ceritanya (aku tidak akan menyebutkan nama mereka, privacy right? Haha).

Perempuan pertama :
Mereka satu fakultas, tapi beda jurusan. Awalnya memang tdak terlalu kenal, hanya tahu saja. Pertemuan hanya terbatas beberapa kali saja, itu pun pada acara tertentu saja. Suatu ketika, mereka bertemu kembali pada acara pelatihan. Saling bertegur sapa, bertukar nomor ponsel, dan ternyata dipertemukan kembali si suatu tempat dan di suatu waktu. Insiden tiga pasang alas kaki pun masih teringat jelas di benak sang perempuan. Mungkin itu awal dari sebuah keterikatan yang berujung pada sebuah komitmen di atas nama Sang Pencipta.

Perempuan ke dua :
Ada yang bilang, jodoh itu tidak akan lari kemana, tidak akan tertukar, dan akan bersatu meski banyak yang mencoba mengecohnya. Sepertinya ini cocok untuk menggambarkan perempuan satu ini. Sang laki-laki yang kini sudah menjadi suaminya, ternyata adalah penggemar rahasianya. Bertemu sejak masih duduk di bangku SMP, hingga menjadi mahasiswa, tidak satu kali pun ia menyatakan perasaannya, tidak juga mendekati perempuan lain. Di sisi lain, sang perempuan –pasti sudah diatur oleh Sang Pencipta- tidak pernah menerima pinangan dari laki-laki lain meski sudah acap kali ingin diminta oleh sang arjuna. Dan pada akhirnya, pertemuan dengan keluarga pun berujung pada akad di suatu waktu, beberapa tahun yang lalu.

Perempuan ke tiga :
 Jodoh itu bisa ketemu di mana saja. Tetangga sebelah, teman satu sekolah, musuh bebuyutan, atau orang yang tidak sengaja bertemu di kendaraan umum. Nah, ini yang terjadi pada perempuan ke tiga. Mereka bertemu di sebuah bus umum. Perjalanan dengan tujuan yang sama acapkali memang membuat para penumpang saling mengomentari beberapa hal. Basa basi di perjalanan daripada manyun sendirian. Siapa yang bissa mengira, kalau akhirnya bisa bertemu di depan penghulu hanya karena berawal dari kenalan di bus dan bertukar nomor ponsel.

Yah, pada akhirnya aku hanya bisa tersenyum. Tahu gak apa yang terlintas dalam pikiranku ketika selesai mendengarkan kisah mereka?
~berarti, cari tau siapa teman lamaku yang sekarang masih belum punya istri, yang Cuma beberapa kali ketemu, siapa tau ada satu di antara mereka yang akan jadi pendampingku~
Haha.

Jodoh itu unik, 
Seringkali yang dikejar-kejar menjauh.
Yang tak disengaja mendekat.
Yang seakan sudah pasti menjadi ragu.
Yang awalnya diragukan menjadi pasti.
Yang ternilai jadi biasa.
Yang tak dinilai jadi bernilai.
Yang selalu diimpikan, tak berujung pernikahan
Yang tak pernah terpikirkan, bersanding di pelaminan
Maka, percayalah..
Jodoh itu bukan masalah seberapa lama kau mengenalnya
Seberapa akrab kau dengan orang tuanya
Atau seberapa sering kau komunikasi dengannya
Tapi, 
seberapa yakin kau padaNya
Seberapa besar kepasrahan kau dengan takdirNya
seberapa besar kau merayu diriNya
Seberapa semangat kau menyempurnakan ikhtiar mendapatkannya
Seberapa ikhlas saat kau gagal mendapatkannya, lalu digantikan dengan yang lebih baik menurut versiNya.