17 September 2012

Cry

Untuk suatu alasan tertentu, aku menangis. Entah karena aku kesal, atau lelah, atau ingin meluapkan apa yang ada di hatiku karena rasa marah, atau entah yang lainnya. Aku hanya ngin menangis. Dan itulah yang kulakukan sore itu. Tapi sayangnya, aku bersama ibu. Dalam keadaan tidak sendirian, bagaimana mungkin aku bisa menangis. Tapi begitulah. Aku berpaling dari wajah ibu di saat yang tepat. Dan keadaan memang mendukung. Angin yang membawa debu kering karena belum juga hujan, kumanfaatkan untuk membuat alasan aku mengusap mataku. Kelilipan. Hal yang wajar bukan? Dan untungnya ibu percaya dan tak bertanya apa-apa. Bagaimana jadinya bila ia sampai tahu bahwa sebenarnya aku menangis dan bukan kelilipan?

2 komentar:

ainuq mengatakan...

Menangis adalah obat, penawar jiwa...setidaknya itu yang juga sering kurasakan...

#tapi sekarang udah ga nangis lagi kan Neng?

lia mengatakan...

:) ya, sekarang sudah senyum mba.. :)